Suka Marah Ke Anak? Wajarkah!
Parenting 470 dilihat komentar

Suka Marah Ke Anak? Wajarkah!

Ketika menjadi orang tua, punya tanggung jawab harus mendidik anak dengan cara yang benar. Anak ketika dikasih pengertian, belum tentu satu kali langsung paham, dua kali, tiga kali belum paham juga. Setelah itu, mulai suara Ibu atau Bapak melengking dengan tajam, menandakan marah.

Pernah mendengar, bahwa ketika orang tua marah, itu sama halnya memutuskan sinaps anak? Kalau mengikuti setiap artikel yang aku posting, pasti jawabannya adalah pernah. Padahal, menjaga supaya sinaps tetap terhubung butuh ekstra hati-hati. Ketika teriak, sinaps akan terputus. Marah, tidak hanya dalam bentuk teriakan, bisa jadi pukulan, jeweran, cubitan, tendangan, dan lain sebagainya yang sifatnya melukai fisik ataupun batin.

#Tips meredakan marah

Kalau mau marah ingat akan hal ini, ketika anak sewaktu kecil sering dimarahin, jangan pernah KOMPLAIN  dan bertanya MENGAPA anak kalian melakukan hal yang sama kepada Bapak dan Ibu sewaktu kalian sudah tua.

Karena, Bapak dan Ibu sudah memberikan contoh sewaktu kecil, bahwa marah adalah hal yang wajar.

Ketika menjadi orang tua, bukan perkara mudah dalam mengontrol emosi. Rasa sabar seringkali menjadi tumpuan ujian terberat. Anak tengah malam bangun, rewel, minta ini dan itu, ataupun alasan-alasan lain yang membuat hati orang tua harus lepas kendali.

Berawal dari masa kecil anak yang telah terbiasa dengan hal itu, maka, ketika orang tuanya sudah tua, tidak heran bila dia akan memerlakukan hal yang sama pada orang tuanya. Pernah suatu ketika saya menemui seorang anak yang sangat sayang kepada orang tuanya, ternyata memang sejak kecil sudah dibiasakan hidup dengan penuh kasih sayang dan kesabaran dari orang tua yang luar biasa. Maka, sudah sepantasnya ketika orang tua telah menua mereka mendapatkan perlakuan yang layak.

Anak akan selalu mengingat apa yang dilakukan daripada yang dikatakan oleh orang tuanya. Jadi, sebuah tindakan dampaknya lebih berkesan. Tindakan tersebut, akan menjadi tindakan berulang, dalam arti, dia akan lakukan juga ke anaknya kelak. Karena anak meniru cara mendidik orang tuanya.

Jadi, apa yang kalian harapkan ketika kalian nanti sudah menua, lakukan dan berikan contoh hal tersebut saat ini. Ketika mereka masih menjadi anak yang masih mudah meniru apa yang dicontohkan oleh orang tuanya. Ketika kalian ingin anak ketika dewasa sayang orang tua, maka sayangilah anak sedari kecil. Mengapa saya menyarankan sejak kecil?

Karena, masa kecil adalah masa di mana anak hanya mampu menerima apapun yang diberikan oleh orang tuanya. Dia belum mampu memilih sendiri. Itu artinya, dia sangat memerlukan kehadiran orang tuanya sebagai penunjuk jalannya. Orang tua menjadi tempat ternyaman dan aman bagi anak. Jadi, ketika anak suka minta gendong apalagi di usianya yang masih belia, itu artinya memang orang tua menjadi tempat ternyamannya.

Ketika menemui anak yang sulit makan, ya, jangan dimarah-marahin. Soalnya ketika nanti kalian sudah tua, juga akan mengalami hal seperti itu. Jadi, ingat selalu apa yang kalian lakukan sebagai orang tua kepada anak. Anak akan lakukan hal yang sama nantinya kepada kalian.

#Dampak sikap marah orang tua kepada anak

1. Memori anak merekam setiap kemarahan yang diberikan

2. Kemarahan merengangkan ikatan batin antara anak dan orang tua

3. Anak akan dihantui perasaan tidak nyaman dan takut kepada orang tua\

4. Anak akan mengalami trauma, depresi dan bersikap apatis

#Tips aman dalam mendidik anak tanpa marah

1. Bayangkan kita sendiri yang dimarahi, meskipun keadaan kita salah, namun, apabila ditegur dengan cara marah, pasti kita tidak mau mendengarkan. Tutup telinga dan berusaha tidak mau ambil pusing dengan apa yang diucapkan. Makanya, kalau mau menasehati anak, dengarkan dulu alasan dia berbuat seperti itu apa, barulah dicari solusinya.

2. Ketika mau marah terlebih dahulu, tarik napas dalam-dalam, dan ingat-ingat bahwa kita selaku orang tua ingin memberikan memori yang indah ke anak bukan sebaliknya. Jadi, emosi kita akan berubah.

3. Marah itu perbuatan yang percuma atau sia-sia. Bukankah setelah marah-marah, kita pasti akan merasa menyesal. Terlebih lagi, apabila kita lakukan itu ke anak kita. Duh, pasti sangat menyesal. Andaikan waktu bisa terulang, pasti tidak kuucapkan kalimat itu, begitulah kira-kira sebuah penyesalan yang akan terjadi sesudahnya.

4. Marah hanya akan meninggalkan luka. Sudah lelah mengeluarkan energi yang banyak untuk marah, namun, bukan perubahan yang didapat. Anak akan semakin bemci kepada orang tuanya.

5. Bila tingkah laku anak super aktif, sampai kadang bikin pusing kepala. Kita sebagai orang tua, rubah cara berpikirnya. Oh dia lagi mau jadiatlit nih, makanya dia suka manjat-manjat. Dia mau jadi ilmuwan, makanya semua hal diacak-acak. Teruslah berpikir, bahwa yang dilakukan anak adalah hal yang positif, daripada dia duduk diam, itu tidak menghasilkan ilmu pengetahuan.

6. Penting untuk diingat! Apapun yang orang tua lakukan, anak akan mengingat seumur hidupnya. Jadi, tanamkan nilai-nilai positif dalam hidupnya. Supaya memori yang diingat adalah hal yang baik.

Catatan: Artikel ini merupakan kiriman dari penulis. Saungliterasi.id tidak bertanggung jawab atas isi yang ada di dalamnya. Namun, kami berhak mengubah maupun menghapus kiriman penulis apabila terdapat kesalahan yang merugikan banyak pihak.

Berita Terkait
Komentar
blog comments powered by Disqus