Salah Paham Tentang “Apa yang Ditulis dari Hati akan Sampai ke Hati”
Inspirasi 63 dilihat komentar

Salah Paham Tentang “Apa yang Ditulis dari Hati akan Sampai ke Hati”

Sebelum membacanya lebih lanjut, bisa jadi kamu nggak setuju dengan anggapan bahwa apa yang ditulis dari hati “belum tentu” akan sampai ke hati. Kebanyakan lebih sepakat kalau apa yang ditulis dari hati akan sampai ke hati.

Betul?

Sepertinya kamu lebih menyepakati kenyataan kedua di atas. Entah karena memang meyakininya atau hanya sekedar ikut-ikutan saja.

Pada tulisan ini, saya ingin memberikan gambaran yang sederhana terkait “belum tentu” apa yang ditulis dari hati akan sampai ke hati”. Untuk membuktikannya, mari kita telaah dulu asal muasal klaim tulisan tersebut dari hati.

Pertama, pembaca merasa “ngena” banget tulisannya. Ini alasan pertama seorang penulis punya “senjata” untuk membuktikan tulisannya benar-benar dari hati.

Kedua, pembaca merasa “jleb” ketika membaca tulisannya. Ini alasan yang kedua klaim penulis bahwa tulisannya berlandaskan hati.

Ketiga, penulis melibatkan perasaannya entah sedih, haru, bahagia dan lain-lain yang berakibat klaim tulisan ini benar-benar dari hati.

Dan masih banyak landasan “klaim” tersebut yang tidak disebutkan mengingat terbatasnya tulisan ini.

Mulai dari sini, kamu mulai tidak sepakat dengan apa yang saya katakan bahwa semua itu hanyalah “klaim” semata yang tidak mewakili semua pembaca. Jadi, berhati-hatilah kita sebagai penulis yang merasa “bangga” tulisannya mengena, menusuk dan membuat pembaca terkagum-kagum.

Saya akan coba menjelaskannya lewat data yang tidak perlu diragukan lagi.

Begini …

Kamu pasti mengenal sosok Nabi Muhammad Saw. Saya yakin kamu sepakat kalau apa yang disampaikan beliau itu benar-benar tulus dari hati yang terdalam. Kalau kamu sepakat, lantas mengapa orang secerdas Abu Jahal tidak menerima seruan dakwah Sang Nabi? Mengapa Abu Jahal tidak baper, menyentuh atau “jleb” terhadap apa yang dikatakan Rasulullah Saw?

Kamu pasti tahu bahwa Beliau adalah selemah-lembutnya manusia, sesantunnya manusia dan seindah-indahnya akhlak, namun ternyata Abu Jahal tak menerima seruannya.

Mengapa itu terjadi?

Jawabannya, apa yang disampaikan dari hati “belum tentu” sampai ke hati.

Di sisi lain, ada yang mengikuti Sang Nabi dengan sesantun dan sebenar-benarnya risalah yang ia bawa. Sampai-sampai siap mati membela agama Allah Swt dan melindungi Rasul-Nya.

Apa yang diteladani Nabi Muhammad Saw, ditiru pula oleh Abu Bakar as-Shiddiq. Keramahan beliau diuji dengan murtadnya sebagian kaum muslimin dan munculnya nabi palsu. Artinya ada sebagian “golongan” orang yang menerima seruan Abu Bakar as-Shiddiq dalam kebaikan pada akhirnya menolak.

Pada sosok berikutnya ada Umar bin Khatab yang berbicara secara tegas. Membuat orang takut berhadapan dengannya. Omongannya “makjleb”. Sampai-sampai setan pun takut dengannya. Apa yang beliau kerjakan kadangkala dijawab oleh al-Qur’an.

Kisah Umar bin Khatab mengajari bahwa sekalipun pembawaan beliau mengelegar, menusuk hati, keras dan tegas, namun ada saja yang mengikutinya dengan keimanan atau rasa takut. Selebihnya, ada “pula” yang tidak menyukainya.

Maka… Penulis, Sadarlah …

Pertama, Allah Swt lah yang Maha membolak-balikan hati manusia. Sesungguh apapun kamu menulis, sesedih apapun, sedramatis apapun, jika Allah ta’ala tidak menghendaki kebaikan pada pembaca, maka tak sedikitpun tulisan yang kita “klaim” dari hati itu akan berarti.

Sesungguhnya hati berada di tangan Allah ‘azza wa jalla, Allah yang membolak-balikkannya.” (HR. Ahmad)

Kedua, tulisan kita bukan apa-apa dibanding dengan hidayah Allah Swt. Tugas kita sebagai penulis adalah menulis kebaikan, sisanya biar Ia yang tunjukan jalan. Jalan kebaikan itu bukan dari hati kita, melainkan dari hidayah Tuhan kita semua.

Ini Dia, Tulisan Paten Tanpa Embel-embel

Satu, tulisan berwujud perbuatan. Siapapun orangnya, jika ia membicarakan lalu menyerukan sesuatu kebaikan kepada orang lain tetapi ia sendiri tidak melakukannya maka ia akan kehilangan kepercayaan dari orang lain. Itulah mengapa banyak orang yang mengikuti Nabi Muhammad Saw dikarenakan selarasnya perbuatan dengan ucapannya. Sekarang tinggal kita yang perlu berjuang menyelaraskan perbuatan dengan tulisan, bukan sibuk “klaim” sana-sini dari hati.

"Amat besar kebencian di sisi Allah, bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan." – (Qs. Ash-Shaff :3)

Dua, tulisan yang berjalan. Maksudnya adalah tulisan yang kita tulis senantiasa selalu mengikuti kemana saja kita pergi. Bukan berarti membawa karya kita ke mana-mana, melainkan orang yang pertama harus mempraktikan isi tulisan adalah penulisnya sendiri.

Tiga, tulisan yang hidup. Tulisan yang pembacanya selalu mengingat dan menjalankan apa yang kita tulis. Tak hanya sekedar takjub, ngena atau jleb, tetapi tulisan yang pembaca bawa ke mana-mana, sekalipun tak ada buku kita di sana.

Jadi, Harus Bagaimanakah Kita?

Kamu tidak perlu memutuskan untuk berhenti menulis karena takut apa yang kamu tulis tidak bisa diamalkan dengan baik. Dulu saya juga begitu. Sampai pada akhirnya saya curhat ke ustadz. Apa jawaban beliau? Mungkin ini cocok buat kita semua…

“Dengan kamu menulis kebaikan, artinya kamu akan lebih sibuk memperbaiki diri ketimbang orang lain.”

Saya sepakat dengan jawaban itu. Karena sejatinya, penulis adalah orang pertama yang harus mempraktikan apa yang ia tulis. Setiap kita menulis buku terbaru, makin bertambah amalan yang perlu kita perbuat. Semakin banyaknya paragraf yang kita tulis, makin banyak pula kebaikan-kebaikan yang harus kita jaga.

Dengan begitu, pembaca akan melihat bahwa tulisan kita benar-benar hidup, benar-benar dari hati, benar-benar jleb dan bermakna. Bukan hanya sibuk mengklaimnya…

Berita Terkait
Komentar
blog comments powered by Disqus