Gerbong Pendengar
Cerpen 11 dilihat komentar

Gerbong Pendengar

Di dalam sebuah gerbong yang masih kosong seorang remaja laki-laki duduk dekat jendela gerbong. Dia menyentuh tirai lalu menyibakkannya seperti seorang gadis dengan rambut panjangnya. Di luar sana terlihat seorang pria berseragam lengkap dengan topi di tangannya berjalan menjauh dari stasiun melewati rel-rel sepi tak berpenghuni. Remaja ini lantas berkata dalam hatinya. Andai saja jika saat itu dia lolos seleksi ujian fisik untuk kondektur, dia yakin bahwa dirinya akan terlihat bagus memakai seragam semacam itu. Tapi apa daya dengan kacamata yang dia pakai sekarang dimana ukurannya bertambah ¼ kali dari ukuran dua bulan lalu dia tidak bisa melanjutkan ujian tersebut dan membuatnya pulang dengan tangan hampa. Memang lensa kacamatanya tak setebal botol kecap warung bakso yang dia sempat hampiri tadi namun orang seringkali orang-orang bahkan temannya salah tafsir soal kacamatanya. Orang-orang di sekitarnya sering memanggilnya “Si Mata Empat” atau jika lebih mengerikannya adalah “Profesor”. Memang terdengar berkelas tapi orang-orang yang mengatakannya selalu menggunakan nama panggilan itu untuk mengejeknya.

“Halo! Ada apa, Bu?!” Tanya remaja itu

“Itu, Joe! Jangan lupa makan nasi bungkusmu tadi! Nanti basi.” Kata seorang wanita dari balik telepon khawatir

Dengan cepat remaja itu menjawab,

“Ada AC nanti baunya menyengat. Menyebar kemana-mana. Nanti saja kalo aku sudah turun. Malu sama orang-orang yang ngga bawa makanan. Lha duduknya aja berhadap-hadapan.”

“Ya sudah, nanti kalo sudah tiba di Kediri kasih kabar. Trus naik ojek aja atau becak.”

“Ah.. ngga perlu, Bu! Jalan kaki saja. Hemat uang. Toh, bisa buat beli minum air putih di toko nanti.”

Tak lama kemudian Joe, remaja itu mematikan panggilan telepon dari ibunya itu. Joe melamun sebentar memandang dengan tatapan kosong lalu memutuskan untuk memejamkan matanya sebentar. Dia bersandar pada dinding gerbong itu dengan leganya. Suhu ruangan itu memang masih terasa dingin meski dia telah mengenakan jaketnya lalu meresletingkannya rapat-rapat.

“Mas? Mas... Mas?” Terdengar suara wanita tua sedang mencoba membangunkan Joe yang terlihat tertidur pulas

Joe sebenarnya masih belum benar-benar tertidur hanya saja dia masih mengulur waktu untuk menikmati masa-masa damai itu meski berlangsung beberapa kerlipan mata.

Joe hanya diam lalu pura-pura terbangun. Dia berpura-pura kaget lalu menyingkir ke kursi sebelahnya setelah suami wanita itu berkata,

“Maaf, mas. Tiket saya 22A sama istri saya 22B.”

Joe melihat tiket yang ada di dompetnya dimana itu tertulis “22C” dimana dia harus duduk di dekat jalan orang berlalu lalang dalam gerbong kecil itu. Joe kembali mencoba untuk tidur meski matanya tertutup namun telinganya tetap terbuka. Dia mendengar percakapan pasangan suami-istri itu tentang anak mereka yang tidak bisa meninggalkan istrinya yang sedang hamil anak kedua. Dari percakapan itu Joe kemudian mendapat kesimpulan bahwa wanita tua itu memiliki sifat yang tak sopan menurutnya.

Dia menyadarinya kembali ketika saat dia masih tidur bersandar dekat jendela gerbong. Wanita itu tanpa empati membangunkannya begitu saja tanpa rasa iba.

“Apa wanita itu tidak pernah berpikir kalau orang tidur sebaiknya dibiarkan saja? Toh.. nantinya dia akan minggir juga ketika sudah bangun.” Pikir Joe dalam hati

Joe memang suka mengasihani dirinya sendiri tapi kali ini berbeda menurutnya. Dia membayangkan jika dirinya ialah seorang ibu hamil yang kelelahan akibat perjalanan yang panjang saat naik kereta seperti yang dia lihat di berita-berita kemarin malam. Apakah wanita itu akan masih tega membangunkan ibu hamil itu demi kursi dekat jendela yang disukai wanita tua itu?!

“Sungguh ibu-ibu yang kejam.” Kata Joe dalam hati

Dua puluh menit berlalu begitu saja dan Joe masih belum tertidur meski ia telah memejamkan matanya lama sekali. Seorang penumpang kemudian duduk di hadapannya. Joe sebelumnya mendengar derap langkah orang itu dengan seksama hingga ia berhasil menebak gender orang itu. Joe yakin orang itu adalah seorang pria lalu ia membuka sedikit kelopak matanya lalu terkejut. Ternyata benar tebakan remaja itu. Dia sering membaca buku yang berbau psikologi dimana gender orang dapat ditebak dari bagaimana orang itu berjalan serta jumlah tarikan napasannya.

Joe melanjutkan tidur pura-puranya hingga dia mendengar hal yang tidak dia ingin dengar meski dibayar dengan mata uang dolar sekalipun.

“Mas, kok pakai seragam? Baru pulang kuliah atau kerja, Mas?” Kata wanita tua di tempat duduk Joe sebelumnya

Joe kaget mendengar pertanyaan mengerikan itu. Dia merasa tersinggung dengan hal itu tapi dia hanya diam dan mengumpat dalam hati. Bagaimana mungkin wanita itu begitu tidak tahu malu dengan ingin tahu yang berlebihan mengenai privasi orang lain hingga ia melanggar norma-norma kesopanan yang dianut dan dijunjung tinggi oleh Joe meski Joe sendiri pernah melanggarnya sesekali ketika dia sedang mendekati seorang teman gadis di kelasnya dulu.

“Baru pulang dinas, Bu. Mau pulang ke Blitar ketemu anak istri.” Kata pria itu ramah

“Lho? Sudah menikah?” Tanya wanita tua terkesan mengejek dengan menyembunyikannya dengan rasa kaget sedikit

Suami wanita tua itu bertanya,

“Umur berapa, Mas?”

“24 tahun sekarang, Pak. Menikah dua tahun kemarin.” Jawab pria itu masih dengan nada yang sama

“Wah! Saya pikir masih muda, belum menikah. Eh.. tahunya sudah menikah.” Jawab kagum wanita tua dengan menutup mulutnya cepat

Joe sedikit kesal mendengar pertanyaan itu. Joe sebenarnya telah lulus SMA 5 bulan yang lalu dimana dia menghabiskan waktunya hanya di rumah saja. Joe merupakan anak emas di sekolahnya dulu. Dia begitu dijunjung tinggi sebagai anak teladan. Dia sering kali mengikuti lomba hingga ia mendapat juara 1 untuk jurusan yang diambilnya ketika SMA.

Teman-temannya memang bangga pada Joe tapi tidak dengan dirinya sendiri. Mengapa demikian? Joe begitu merasa terpukul ketika hasil ujian masuk kuliahnya tidak membuahkan hasil. Dia begitu berusaha selama 3 tahun lamanya untuk memupuk hasil rapotnya selama itu. Dia tidak dapat meneruskan pendidikannya ke jenjang berikutnya. Ia mengurung diri di kamar selama bulan-bulan yang suram itu. Dia membanting piagam-piagam yang diberikan padanya seolah semua itu rongsokan. Dia tidak tahu lagi bagaimana cara mencari beasiswa sebab surat undangan yang dia terima dari universitas swasta telah habis masa berlakunya. Terlebih lagi dia tidak punya uang untuk masuk kuliah kesana.

Saat Joe ditanya oleh teman-temannya dia selalu saja mengelak dengan jawaban mengambang andalannya.

“Joe, nerusin kuliah dimana?” Tanya teman Joe

“Iya, Joe. Kenapa ngga satu universitas sama kita aja? Kan lu pinter kan, ya?”

“Ya, bener tu. Biar kita tetep sama-sama terus.” Kata temannya yang lain

“Ah.. pengen tahu aja kalian. Liat aja nanti. Pengennya sih masuk universitas negri. Lagian jurusannya kan beda?! Aneh-aneh aja. Ayo main!” Jawab Joe

Joe telah merencanakan untuk kuliah ketika dia masih SD dulu. Namun sekarang rencana itu berantakan dan tidak menyisakan apapun di depannya. Joe begitu pasrah meski sulit menerima kenyataan.

“Kuliah di jurusan apa, Nak? Kalo bekerja di kapal laut?” Tanya sang suami penasaran

“Ya itu, Pak. Kalo bagian saya itu program studi teknik perkapalan.” Jawab pria di hadapan Joe dengan sopan

“Kalo di kapal itu? Kalau makan gimana, Mas? Beli?” Tanya wanita tua

“Ya kalau beli terus uang ya bisa habis, Bu. Bagaimana Anda ini?” Jawab Joe dalam hati

“Ya biasanya kalo berhenti di pelabuhan ada warung, Bu. Tapi kalo di kapal untuk waktu lama kaya saya ya buat makanan sendiri. Saya biasannya yang buat makanannya untuk kru kapal.”

“Istri saya biasanya kalo buat makanan itu mesti enak begitu, Mas. Ngga pernah pake micin.”

Joe kemudian menjawab dengan cepat dengan mulut rapat terkunci,

“Ah, palingan juga bohong. Kan MSG ngga di micin aja.”

“Mangkanya anak-anak kita tidak ada yang tidak pintar. Semuanya sarjana. Ketiga anak saya itu sarjana. Ya itu karena istri saya itu biasanya kalo masak makanan itu ditambah... Ditambah apa, Bu?” Kata sang suami

“Ya itu lho, Pak. Banyakin bawang merahnya. Biar sedap! Ada juga sereh, laos, daun jeruk, sama daun bawang.” Jawab wanita tua itu

“Sama, Bu. Saya biasanya juga begitu. Kalo perlu ditambahi daun salam biar wangi” Jawab pria itu sedang menahan emosinya sedikit lalu tersenyum simpul sedetik

Mereka bertiga berhenti bercakap-cakap untuk beberapa menit hingga sang suami itu berkata setelah mematikan panggilan dari anaknya.

“Enak, ya sekarang. Ngga perlu lagi lihat peta untuk kemana-mana. Kalo dulu itu harus buka peta kalau kemana-mana. Saya dulu hafal betul semua wilayah peta Indonesia. Dari wilayah bahan tambangnya di kota-kota sampai... Apa itu?  Oh, ya minyak buminya di Kalimantan.”

Joe lantas menjawab,

“Pak, yang benar itu pulau Sumatra.”

“Kalo sekarang gampang. Tinggal buka google map. Jadi orang-orang sekarang itu jadi malas. Apalagi anak-anak muda.” Tambah sang suami itu sambil memasukkan ponselnya ke dalam sakunya

“Iya, Pak.” Kata pria itu menyetujui pernyataan itu

“Ya, enggak-lah. Kan memang fungsinya kemajuan teknologi ya seperti itu. Untuk kemudahan. Kalau sulit untuk apa digunakan.” Jawab Joe menahan gejolak emosinya

Joe menggigit ujung bibir bagian bawahnya.

Panggilan telepon kemudian terdengar. Joe yang kaget segera meraba ponsel di saku celananya perlahan. Ternyata waktu telah berlalu 2 jam ketika dia pertama kali duduk.

Setelah stasiun hampir tiba di perhentian yang tak jauh dari tempat tujuannya. Joe membuka Instagram. Dia tahu bahwa nantinya dia akan merasa tidak nyaman ketika melakukannya dan hasilnya umumnya tidak baik bagi dirinya. Mengapa? Joe ini bukanlah anak kuliahan maupun golongan pekerja. KTP-nya pun masih tertulis “pelajar/ mahasiswa” meski dia tidak menempuh pendidikan di sekolah manapun ataupun bekerja dimanapun. Tapi itu semua berbeda untuk teman-temannya dulu. Mereka semua masuk ke universitas yang jelas. Setiap kali memandang raut bahagia teman-temannya yang diposting ke platform itu. Dia merasa iri. Jika saja orang tuanya berkecukupan dia tidak akan menjadi seperti sekarang.

Joe pernah mendapat cibiran ketika dia selalu mempersoalkan bahwa masa-masa sekarang pekerja harus mendapat ijazah sarjana untuk bekerja lebih baik, untuk diterima kerja di perusahaan utamanya. Orang-orang, tetangganya bahkan saudara jauhnya yang tak tahu silsilahnya mengatakan bahwa bagaimana mungkin ada anak aneh seperti Joe. Mereka berpikir bahwa Joe ialah anak yang hanya terobsesi menjadi mahasiswa.  Tapi teman-temannya dan gurunya sekalipun memang memandang Joe pantas untuk menjadi seorang mahasiswa. Joe berpikiran maju dan terbuka dimana itu bukanlah kesalahannya.

Joe terjaga untuk satu jam lamanya hingga ia memutuskan untuk berdiri di dekat pintu masuk gerbong kereta. Dia melamun melihat gedung-gedung, rumah-rumah, dan pepohonan yang berlalu begitu saja. Dia teringat kembali dengan raut wajah teman-temannya yang gembira mempunyai teman-teman baru hingga mendapatkan kesempatan istimewa masuk ke universitas negeri tempat dia rencanakan untuk masuk dulu. Pandangan Joe terlihat tenggelam dalam kecepatan tinggi gerbong itu berjalan lalu mengambil ponselnya untuk menelepon ibunya.

Catatan: Artikel ini merupakan kiriman dari penulis. Saungliterasi.id tidak bertanggung jawab atas isi yang ada di dalamnya. Namun, kami berhak mengubah maupun menghapus kiriman penulis apabila terdapat kesalahan yang merugikan banyak pihak.

Berita Terkait
Komentar
blog comments powered by Disqus